Berapa biaya iklan yang wajar untuk usaha kecil di Indonesia?
ZenDev Project · 18 September 2026 · 2 menit baca
Pertanyaan ini hampir selalu dijawab dengan satu angka: sepuluh persen dari omset. Angkanya gampang diingat, dan itulah satu-satunya kelebihannya.
Kenapa “10% dari omset” menyesatkan
Dua toko dengan omset sama bisa punya kemampuan belanja iklan yang jauh berbeda. Yang satu menjual barang dengan margin 15%, yang lain 60%. Memakai persentase yang sama untuk keduanya berarti satu toko boros dan satu toko terlalu pelit — dan keduanya tidak tahu sedang di posisi mana.
Yang menentukan bukan berapa uang masuk, melainkan berapa yang tersisa setelah barang, ongkos kirim, dan biaya tetap dibayar.
Mulai dari margin, bukan dari omset
Hitung dulu berapa rupiah yang tersisa dari satu penjualan. Itu batas paling atas biaya mendapatkan satu pembeli. Kalau sisa Anda Rp40.000 per penjualan, membayar Rp45.000 untuk satu pembeli berarti rugi — walau laporan iklannya terlihat ramai.
Rumusnya: batas biaya per pembeli = (harga jual − modal − ongkos) × 0,5
Setengahnya disisakan untuk keuntungan Anda. Kalau ingin tumbuh cepat dan berani tipis, naikkan angka penggandanya — tetapi tulis dulu berapa batas ruginya.
Contoh: toko kopi bubuk
Harga jual Rp95.000, modal Rp52.000, ongkos kirim ditanggung pembeli. Sisa Rp43.000 per penjualan. Dengan rumus di atas, batas biaya mendapatkan satu pembeli adalah Rp21.500. Kalau dari 100 orang yang mengklik iklan ada 4 yang membeli, biaya per klik yang masih masuk akal adalah sekitar Rp860.
Begitu angka itu ada, laporan iklan berubah arti: bukan lagi “ramai atau sepi”, tetapi “di bawah atau di atas batas”.
Kapan menaikkan belanja iklan
Naikkan saat biaya per pembeli bertahan di bawah batas selama tujuh hari berturut-turut, dan naikkan sedikit — 20% sekali jalan. Kenaikan besar membuat sistem iklan mengulang pembelajarannya, dan biayanya justru naik sebelum turun.
Bingung mulai dari mana?
Ceritakan pekerjaan yang paling banyak makan waktu Anda. Kami balas dengan saran produk atau layanan mana yang paling masuk akal — gratis, tanpa ikatan.